4 Hari Dirawat, Korban Gempa Akhirnya Meninggal
Kamis, 29 Juli 2010
Nursopiah, korban gempa tertimpa reruntuhan yang meninggal dunia ketika ditangisi pihak keluarga sebelum dimakamkan, Rabu (28/7).
MADINA-METRO; Setelah dirawat selama empat hari dan mendapatkan pengobatan medis, Nursopiah (25), warga Hutaraja, Kecamatan Siabu, Madina, korban tertimpa bangunan saat gempa bumi melanda Madina, Sabtu (24/7) lalu, akhirnya meninggal dunia Rabu (28/7) sekira pukul 05.30 WIB di RSU Padangsidimpuan. Korban meninggal usai menjalani operasi usus. Sebelumnya, Nursopiah sempat dirawat di Puskesmas Siabu dan RSUD Panyabungan.
Amatan METRO di rumah duka di Desa Hutaraja, isak tangis histeris keluarga Nursopiah yang masih berstatus gadis tersebut, tak tertahan manakala mengetahui bahwa korban yang tertimpa runtuhan bangunan saat gempa mengguncang telah meninggal dunia. Di mana menurut warga, korban termasuk gadis yang santun dan ramah.
Saudara korban, Ali Hamzah (27) saat ditemui METRO di sekitar rumah duka, Rabu (28/7) menuturkan, korban dirawat di RSUD Panyabungan sejak Sabtu (24/7) sore dan dirujuk ke RSU Padangsidimpuan pada Selasa (27/7) sekira pukul 16.00 WIB. Nursopiah kemudian dioperasi Rabu (28/7) dini hari sekira pukul 02.00 WIB.
Hamzah menceritakan, korban pada Sabtu (24/7) lalu tertimpa reruntuhan bangunan sebuah surau di Desa Hutaraja. Di mana ketika itu korban hendak mandi ke surau. Reruntuhan tembok yang menimpa korban ini terjadi saat gempa susulan ketiga datang sekira pukul 09.45 WIB. Saat gempa pertama dan kedua terjadi, seluruh warga sudah berada di luar rumah dan mewaspadai gempa susulan datang lagi.
Ditambahkan Hamzah, Nursopiah yang sedang berada di teras rumah salah satu warga di samping surau dengan spontan lari ke samping tembok atau dinding surau.
"Korban saat itu khawatir jika di bawah teras rumah tersebut, dan terus lari ke samping tembok sebagaimana warga lainnya yang keluar dari rumah masing-masing. Korban mungkin berharap lebih aman di luar. Namun setibanya di samping tembok, tiba-tiba tembok tersebut runtuh menimpa seluruh badan korban sehingga korban mengeluarkan banyak darah," terang Hamzah.
Hal senada juga diceritakan paman korban, Kahar Nasution (50), didampingi puluhan warga lainnya. Diutarakan Kahar, saat gempa terjadi seluruh warga sedang panik dan berada di luar rumah. Tiba-tiba warga mendengar bahwa Nursopiah telah tertimpa reruntuhan tembok, sehingga warga langsung membawa korban ke Puskesmas Siabu untuk diberikan pertolongan darurat.
"Korban tiba di Puskesmas sekitar pukul 11.30 WIB dan telah menjalani penanganan darurat oleh pihak medis. Namun karena kekhawatiran pihak Puskesmas Siabu, korban kemudian dirujuk ke RSUD Madina di Panyabungan sore harinya, dan dirawat selama 4 hari, atau hingga Selasa sore (27/7). Pihak RSUD Panyabungan mengatakan bahwa korban harus dirujuk ke RSU Psp untuk penanganan lebih intensif," terang Kahar.
Keluarga Sesalkan Pelayanan RSUD
Kahar menambahkan, dirinya dan keluarga mengaku sangat kecewa dengan pihak RSUD Panyabungan karena tidak memberikan pelayanan yang sesuai dan maksimal kepada korban Nursopiah.
Diungkapkannya, setibanya di RSUD Panyabungan, pihak keluarga telah menyebutkan bahwa Nursopiah merupakan korban bencana gempa bumi dan tertimpa tembok surau yang ada di Desa Hutaraja. Namun pihak RSUD Panyabungan tetap meminta Jamkesmas atau surat keterangan dari kepala desa sebelum diberikan pengobatan. Padahal, sebut Kahar, korban sangat membutuhkan pertolongan.
"Kami sempat cekcok dengan pihak RSUD Panyabungan karena mereka terus ngotot minta Jamkesmas dan surat keterangan dari kepala desa untuk bisa memeroleh pengobatan. Padahal kami telaj beritahukan kalau Nursopiah merupakan korban tertimpa runtuhan tembok akibat gempa bumi," tukas Nahar.
Sementara itu Direktur RSUD Panyabungan, Drg Bidasari saat dihubungi METRO melalui telepon selulernya menjelaskan, pihak RSUD Panyabungan telah memberikan pelayanan semaksimal mungkin atas Nursopiah. Diutarakannya, persolan yang disampaikan paman korban tersebut hanya miss komunikasi. "Itu hanya persoalan miss komunikasi saja. Namun akhirnya kami merawatnya dengan baik," ujar Bidasari.
Direktur RSUD Psp dr Aminuddin mengatakan, dokter yang menangani Nursopiah pada saat pembedahan adalah dr Sorimonang. Disebutkan Aminuddin, menurut sepengetahuannya, operasi yang dilakukan karena infeksi pada usus.
"Saya tidak tahu persis, karena yang menanganinya dr Sorimonang, spesialis bedah. Hanya saja biasanya operasi usus ini karena ada infeksi atau mengalami luka di rongga perut," ujarnya. (wan/phn)
