headerphoto

269 Penenun Tradisional Dapat Pembinaan

Rabu, 3 Juni 2009 15:54:15 - oleh : gengbeng

Rabu, 03 Juni 2009

TAPSEL-METRO; Sejak tahun 2006 lalu hingga sekarang jumlah perajin tenun gedokan (penenun tradisional, red) dan silungkang di Kabupaten Tapanuli Sealatan (Tapsel) terus meningkat. Sampai Juni jumlah penenun tradisional mencapai 269 orang.

Penenun tradisional di Tapsel yang dibina pemerintah daerah sekitar 269 penenun dengan jumlah Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) sebanyak 64 ATBM dengan rincian, di Kecamatan Sipirok sebanyak 56 unit, Kecamatan Arse 6 unit dan Angkola Barat 2 unit yang digunakan penenun 8 desa yaitu Desa Paran Julu, Padang Bujur, Bagas Lombang, Bunga Bondar, Pangaribuan, Purba Sinomba, Hutasuhut dan Desa Baringin.

Diterangkan Kepala Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Koperasi (Dinas Perindagkop), Kabupaten Tapsel, Ir Zunaim Lubis melalui Kepala Bidang (Kabid) Disprindag, Drs Syariful Awal Hasibuan, di tahun 2006 lalu, awal pengembangan tenun Tapsel, penenun UKM yang dibina sekitar 20 penenun dengan tahap awal pembinaan pelatihan yang dilakukan Disperindagkop dengan jumlah ATBM  gedokan sebanyak 6 unit.

Kemudian, di tahun 2007 jumlah penenun yang dilatih dan dibina bertambah menjadi 100 penenun dengan jumlah ATBM sebanyak 24 unit  yang awalnya masih di Kecamatan Sipirok. Lalu, pada tahun 2008 jumlah perajin melejit, melalui pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat sebanyak 249 dengan jumlah ATBM 34 unit dan bertambah menjadi tiga kecamatan dengan di bukanya pembinaan di Kecamatan Angkola Barat.

"Ditargetkan pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat sebanyak 20 orang lagi yang ditergetkan pada triwulan ke tiga tahun ini. Yang akan menjadi sasaran pembinaan dan pelatihan adalah Kecamatan Batang Angkola dengan target ATBM sebanyak 13 unit," ujar Syariful Awal Hasibuan kepada METRO Selasa (2/6).

Sehingga, program ini dapat berjalan dengan lancar melalui pembinaan bertahap sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan (Jutlak) dari Dinas Disprindag Provinsi, yang akhirnya target sasaran kita seluruh kecamatan yang ada di Tapsel yang berjumlah 12 Kecamatan akan mendapat pembinaan dan pelatihan serta dibuka sentra ekonomi UKM perajin tenun.

"Dan semua dana pembinaan dan pelatihan serta alat ATMB bersumber dari APBD dan APBN pusat untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan dengan menggerakkan usaha-usaha kecil menengah masyarakat sesuai dengan Program Bupati Ir Ongku P.Hasibuan dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan," tutur Hasibuan.

Ditambahkan Syariful, jenis hasil tenunan perajin Tapsel berupa selendang, syal, songket dan ulos batak dengan asal bahan tenunan benang biasa, katun, sutra dan benang berwarna.

Di mana dalam satu buah hasil kerajinan tenun semisal selendang memakan waktu pembuatan selama seminggu dengan ukuran selendang, ulos, songket 1 meter kali 60 centimeter persegi.

Dengan harga bahan tenunan seperti benang sutra sebesar Rp120.000 per kilogram, katun sebesar Rp150.000 per kilogram dan benang biasa Rp70.000 per kilogram. Sedangkan harga hasil tenunan perhelai berupa ulos, songket dan sal dengan harga rata-rata per helai seharga Rp150.000 bahkan sampai Rp300 ribu. (amr/neo)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Tapsel, Padangsidimpuan, Madina, Palas dan Paluta" Lainnya