SDN 1018700 Desa Ulu Mamis Tapsel butuh pembangunan
TAPSEL - Sekolah Dasar Negeri 1018700 Desa Ulu Mamis, Kec.SaiparDolok
Hole, Kab.Tapanuli Selatan, kondisinya sangat memprihatinkan, butuh pembangunan
dan guru. Di sana
hanya ada 2 PNS, satu guru dan satu kepala sekolah untuk mengajar 53 murid.
Kondisi bangunan sekolah di pinggir jalan provinsi di ibukota kecamatan ini
sudah lama tidak tersentuh pembangunan. Begitu juga kondisi meubilernya yang
hanya berjumlah 30 unit dan sudah tidak layak pakai.
Desa Ulu Mamis ini termasuk salah satu desa tertinggal di Tapsel. SDN 1018700
itu merupakan sekolah satu-satunya di desa Ulu Mamis dengan 3 ruang belajar
tanpa ruang guru. Satu ruang belajar ditempati dua kelas agar semua murid bisa
masuk pagi. Konstruksi bangunan sekolah terbuat dari papan, terlihat sudah
lapuk dimakan rayap dan warna bangunan sudah kusam. Asbesnya sudah
bolong-bolong akibat termakan usia dan tangan-tangan jahil. Tiap ruangan,
lantainya berlubang-lubang hingga kerikil dan tanah yang dijadikan penimbun
lantai berserakan dan menimbulkan debu. Atap yang terbuat dari seng sudah banyak
bocor, sehingga bila musim hujan sering menggenangi lantai. Jika dibiarkan,
dalam waktu dekat sekolah itu akan hancur.
Dalam proses belajar mengajar di ruang kelas, murid menggunakan papan tulis
dengan kayu penyokong di bagian belakang. Pasalnya, papan sekat yang digunakan
sebagai pembatas ruang kelas sudah tidak bisa ditancap paku, karena lapuk dan
dimakan rayap.
Kondisi meja dan kursi guru tidak jauh beda dengan yang digunakan murid. Semua
sudah reot, goyang-goyang, dan paku bermunculan di sana-sini. Yang
membedakannya cuma meja guru pakai taplak meja, digunakan hanya untuk satu
orang.
Sedangkan lemari buku lebih memprihatinkan lagi, pintunya patah-patah dan papan
dindingnya sudah bercopotan. Sehingga buku kurikulum yang ada di dalamnya
tampak jelas dari luar, berdebu, kusam, dan turut dimakan rayap.
Jika melihat kondisi prasarana siswa, untuk belajar, para siswa ada yang tiga
orang satu meja. Sangat diragukan dengan kondisi ini bisa melahirkan generasi
penerus yang memiliki sumber daya manusisa (SDM) handal.
Beberapa orang murid kelas V yang ditemui di ruang kelasnya, mengaku
sangat tidak nyaman saat belajar. Pasalnya, untuk menulis saja mereka harus
berbagi meja dan bangku dengan dua temannya. Saat menulis pelajaran yang
dibacakan guru, mereka sering sikut-sikutan akibat ketiadaan ruang gerak
tangan, belum lagi minimnya buku paket sekolah yangharus dibagi 1 buku untuk 2
orang.
"Untuk pindah sekolah sangat tidak memungkinkan, karena membutuhkan ongkos dan
sekolah semakin jauh. Sedang orangtua ekonominya pas-pasan. Lagipun, semua
teman sekampung hanya bersekolah di sini, " kata para murid berbaju lusuh
dan ujungnya mulai menunjukkan tanda-tanda hendak robek.
(irw/ann)
