headerphoto

SDN 1018700 Desa Ulu Mamis Tapsel butuh pembangunan

Senin, 30 Maret 2009 15:09:30 - oleh : gengbeng

TAPSEL - Sekolah Dasar Negeri 1018700 Desa Ulu Mamis, Kec.SaiparDolok Hole, Kab.Tapanuli Selatan, kondisinya sangat memprihatinkan, butuh pembangunan dan guru. Di sana hanya ada 2 PNS, satu guru dan satu kepala sekolah untuk mengajar 53 murid. Kondisi bangunan sekolah di pinggir jalan provinsi di ibukota kecamatan ini sudah lama tidak tersentuh pembangunan. Begitu juga kondisi meubilernya yang hanya berjumlah  30 unit dan sudah tidak layak pakai.

Desa Ulu Mamis ini termasuk salah satu desa tertinggal di Tapsel. SDN 1018700 itu merupakan sekolah satu-satunya di desa Ulu Mamis dengan 3 ruang belajar tanpa ruang guru. Satu ruang belajar ditempati dua kelas agar semua murid bisa masuk pagi. Konstruksi bangunan sekolah terbuat dari papan, terlihat sudah lapuk dimakan rayap dan warna bangunan sudah kusam. Asbesnya sudah bolong-bolong akibat termakan usia dan tangan-tangan jahil. Tiap ruangan, lantainya berlubang-lubang hingga kerikil dan tanah yang dijadikan penimbun lantai berserakan dan menimbulkan debu. Atap yang terbuat dari seng sudah banyak bocor, sehingga bila musim hujan sering menggenangi lantai. Jika dibiarkan, dalam waktu dekat sekolah itu akan hancur.

Dalam proses belajar mengajar di ruang kelas, murid menggunakan papan tulis dengan kayu penyokong di bagian belakang. Pasalnya, papan sekat yang digunakan sebagai pembatas ruang kelas sudah tidak bisa ditancap paku, karena lapuk dan dimakan rayap.

Kondisi meja dan kursi guru tidak jauh beda dengan yang digunakan murid. Semua sudah reot, goyang-goyang, dan paku bermunculan di sana-sini. Yang membedakannya cuma meja guru pakai taplak meja, digunakan hanya untuk satu orang.

Sedangkan lemari buku lebih memprihatinkan lagi, pintunya patah-patah dan papan dindingnya sudah bercopotan. Sehingga buku kurikulum yang ada di dalamnya tampak jelas dari luar, berdebu, kusam, dan turut dimakan rayap.

Jika melihat kondisi prasarana siswa, untuk belajar, para siswa ada yang tiga orang satu meja. Sangat diragukan dengan kondisi ini bisa melahirkan generasi penerus yang memiliki sumber daya manusisa (SDM) handal.

Beberapa orang murid kelas V yang ditemui di ruang kelasnya,  mengaku sangat tidak nyaman saat belajar. Pasalnya, untuk menulis saja mereka harus berbagi meja dan bangku dengan dua temannya. Saat menulis pelajaran yang dibacakan guru, mereka sering sikut-sikutan akibat ketiadaan ruang gerak tangan, belum lagi minimnya buku paket sekolah yangharus dibagi 1 buku untuk 2 orang.

"Untuk pindah sekolah sangat tidak memungkinkan, karena membutuhkan ongkos dan sekolah semakin jauh. Sedang orangtua ekonominya pas-pasan. Lagipun, semua teman sekampung hanya bersekolah di sini, " kata para murid berbaju lusuh dan ujungnya mulai menunjukkan tanda-tanda hendak robek.
(irw/ann)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Tapsel, Padangsidimpuan, Madina, Palas dan Paluta" Lainnya